Pepadi » Warta Pepadi » Liputan
07 July 2010

WAYANG PASEMON, PASEMON WAYANG

WAYANG PASEMON, PASEMON WAYANG
Oleh Bambang Murtiyoso
(Dosen ISI Surakarta)

Kacarita jroning lincak, ana celoteh, akèh caleg lincek-lincek, cecengilan kaya celathuning cak Liqin saka Cilacap, kang colat-colot nyang Cilandak. Demikian awal ujaran Om Sura dalang WAYANG PARODISIAL, sebuah eksperimen alternatif jagad wayang. Adegan pertama diceritakan seorang juru kampanye Partai Sindung Riwut, sebut saja Raden Harya Sangkuni. Tokoh yang satu ini terlalu terkenal dan benar-benar tercemar, lantaran kejuligannya dalam berbagai hal. Ia gemar berganti partai, pandai melobi, tangkas dalam serangan fajar, gempuran malam, borbardir siang, serta tangkas berdebat. Tahun lalu menjadi fungsionaris partai HIHUHA (Himpunan Huru Hara), dan sebelumnya menjadi aktivis GKB (Gerakan Kisruh Budaya).


Beberapa partai yang pernah disinggahi Sangkuni, selalu unggul dalam merayu massa. Oleh sebab itu, Sangkuni mendapat simpati besar dari berbagai kalangan serta menjadi rebutan sejumlah pimpinan partai. Harga yang ditawarkan Sangkuni sangat mahal, ber-‘em-em,’ milyaran. Dalam sesorah¬nya, Sangkuni selalu memperoleh pujian menggelora, tepuk tangan riuh rendah laksana mbata rubuh, Sangkuni pernah menolak untuk menjadi tim sukses sebuah partai coba-coba, Barisan Sakit Hati yang dipimpin Jayajrata. Ia pernah sukses dalam menggembosi Gerakan Gonjang Ganjing pimpinan Kartapeya, sebab imbalannya sangat menjanjikan.
Adegan selanjutnya, Sang Durmagati sedang gayeng-regeng dengan kedua koleganya, yaitu Citraksa dan Citraksi. Dengan gaya dan logatnya yang khas, Durmagati membeberkan rencananya untuk memperoleh massa banyak, yaitu membagi sembako ke para calon pemilih. Citraksi yang celat lidahnya, menolak, sebab memerlukan dukungan dana yang tidak lumrah, dari mana didapat? Durmagati tersenyum, jangan bernyali ciut, dana yang didapat dari Sangkuni dialihkan saja ke calon kita, Dursasana. Citraksa—tokoh yang sederhana, lugas, dan setengah jujur—langsung menolak, itu namanya manipulasi. Bukan, sela Citraksi, itu namanya polusi money, eh money politik. Sama saja, sambung Citraksa. Tiba-tiba secara mendadak sang jago datang, Dursasana, berkoar: “sudahlah jangan ribut, semua dana saya yang menanggung, 100 M sudah tersedia, jalankan peranmu seperti rencana.”


Babak berikutnya. Dua tokoh penggerak massa, Aswatama dan Kartamarma dedreg beradu mulut, dan berlanjut pada perkelahian. Sayup-sayup terdengar, dalam timpaan gamelan yang menggebu-gebu, masalahnya keanggotaan partai. Semua fotocopy KTP (Kartu Tanda Penyelamat) yang dikumpul¬kan Aswa¬tama ternyata palsu. Aswatama membela diri, fotocopy itu berasal dari Durma¬gati. Goblog, umpat Kartamarma: kowé kan sudah tahu kalau Durmagati itu jago memalsu? Jangan repot, damprat Aswatama, semua anggota KPU (Komunitas Pembingung Umat) toh berkatarak. Keduanya sama sekali tidak menduga bahwa koleksi KTP itu juga telah terkumpul pada caleg yang lain. Underan-nya ya pokal gawé RHS. Kedua penggerak massa itu sudah terlanjur babak belur. Adegan semakin seru semrawut, ketika Citraksa dan Citraksi menggerakkan pengikut masing-masing; yang diotaki Durmagati, tawuran masal tidak terhindar.


Adegan mengeng beberapa saat. Sang dalang menenggak air mineral. Pesinden Surti melantunkan lagu-lagu sendu mendayu untuk mengiringi isak Banowati. Anak cewek satu-satunya, Lesmanawati, dipaksa tampil sebagai caleg partai usungan ayahnya, Suyudana, agar target 30 % bagi perempuan dapat tercapai.
Togog dan Limbuk datang memberikan pelatihan khusus dalam menghadapi “adol abab,” pada masa kampanye mendatang. Pelatihan dipusatkan bagaimana cara membangun sikap, gerak tangan, posisi kepala, wajah yang sumringah, pilihan kata-kata yang mempesona, jika diperlukan semi agitatif. Bilung memberikan pelatihan khusus tari-menari dalam bentuk repertoar yang sangat sederhana, yang penting dapat ogèk lambung, goyamg pantat.
Lesmanawati, meskipun suaranya blero, diwajibkan belajar menyanyi. Mulai dari langgam, kroncong, ndhangdut, lagu perjuangan, sampai mars partai. Pelatihnya tunggal, Cangik, penyanyi jawara tempo doeloe. Lesmanawati wajib menguasai gending: Si Macan Betina, Mars Harimau Kumbang, Dhudha Ngasak, Randha Nggruguh, Kakek Terkekeh-kekeh tapi Nenek Termehek-mehek, dan lagu paling top, Tanjir Gunung. Tidak lupa Eyang Kombayana membekali berbagai konsep politik praktis serta jargon-jargon partai. Dengan bekal yang lumayan, diharapkan dapat menghipnotis penonton panggung adol abab, sehingga terpana dalam mimpi dan igauan.
Adegan insert, Putra Mahkota Astina, Raden Lesmana Mandra Kumara (RLMK) sudah mengawali bergerak. Tanpa kegamangan sedikit pun, RLMK telah bersafari di seluruh wilayah Gajahoya. Meskipun isi pidatonya kacau, gagap terbata-bata, suara parau serta gaya wagu, tetapi di mana-mana RLMK dielu-elukan, selalu disanjung-sanjung oleh golongan pengathok, yang mendapat predikat ABS (Antek Bos Sementara).
Kekuasaan ABS tak terbatas, sebab memiliki daerah pengaruh dan jejaring luas; para petinggi wilayah, brahmana, kaum intelektual, saudagar, pedagang, buruh, petani, TKW, nelayan, dan tak lupa para preman lokal dan grayak internasional. ABS ini juga memiliki beberapa perusahaan. Agar kalis dari pungutan pajak, perusahaan mereka disebut LSM (Lingkaran Siluman Musiman). Usahanya sebagian besar ilegal; candu, ciu, dan judi gelap. Usaha yang paling menjajikan adalah MUCIKARI klas kakap, untuk melayani para penggede yang sedang turne.


Masa adol abab jual kecappun tiba, festival orasi dimulai. Sebelumnya, para artis, baik yang kondang maupun bakalan, berjajar berlapis-lapis; para selibritis berbaris meringis-ringis. Mereka semua jual senyum, obral suara dan gaya; untuk meraup simpati khalayak. Segala jenis tontonan arak-arakan ditampilkan; di antaranya reog, jatilan, ogoh-ogoh, sisingaan, barongan, liong, dan tak lupa barong say Malamnya, pesta rakyat itu dimeriahkan dengan tayuban atau lengger, wayang, ketoprak, ludruk, campur sari, dang-dut, dan tentu berbarungan dengan hingar-bingarnya musik Barat. Rakyat semuanya terbius dalam kegembiraan. Penjaja asongan dan PKL mendadak tumplek bleg. ABS yang mengatur semuanya, termasuk membagi kaos, jaket, minuman serta makanan ringan, dan tentu saja sembako.
Tawur masal terjadi di mana-mana. Bayangkara negara, Karna, seperti lazimnya, berujar klise: “semua tenang, situasi masih aman terkendali.” Panglima perang Salya menambahkan: dampak yang terjadi adalah sesuatu yang biasa, merupakan dinamika sebuah proses berdemokrasi. Pendukung pentas berucap bareng: “jangan demokrasi yang hanya dicoba-coba, seperti kelinci ya ...........” Peristiwa kecil itu bukan disengaja, lanjut Karna, hanya disebabkan oleh human eror, bukan kesalahan sistem, ada prosedur yang sedikit menyipang. U u u u kuno, alok para pesinden dan pengrawit serentak.


Akhir dari pesta pora Negeri Korawa itu, semua cekikikan, pesinden, wiraswara, pengrawit, bintang tamu, dan penggemar WAYANG PARODISIAL. Diceritakan golput mengadakan tasyukuran, program penggembosan pemilih sukses besar. Yang menang bangga, lantaran dapat kursi di DPR (Dewan Pengangguran Raya), dari sanalah abang ijo negara akan direkadaya; sekalian mendulang kekayaan. Sedangkan kelompok yang kalah tetap senyum-senyum, terlanjur mendapat cipratan santunan dari MPHR (Masyarakat Penggarong Harta Rakyat). Sorak sorai membahana di papan atas, tetapi kepedihan lestari terlihat pada para pemilihnya yang sekedar mendapat uncalan sembako sekampil.
Pemilih yang terbuai saat musim dodolan abab tetap merana abadi di dalam kebodohan, kehampaan, pengangguran, serta kemlaratan berkepanjangan. Janji-janji demi kesejahteraan bersama di dalam masa adol abab, hanya berlaku bagi mereka yang duduk mereka pilih. Ironisnya, rakyat kecil selalu mudah dikebiri, demi sesuap nasi termakan janji-janji dan semboyan doblog. Gombalé Mukiya tetap berserakan di lorong-lorong penderitaan. Saat kampanye rakyat kecil ibarat balung, menjadi rebutan anjing-anjing dan kucing-kucing; tikuspun ikut nimbrung mengerat-erat. Negara Korawa semakin remuk rempu keropos, lantaran semua sungsum telah ludhes kures-kures, dihisap habis menjadi bancakan kolektif.


Adegan sisipan, ladrang Cikar Bobrok mengiring Semar berwasiat: Ě é aé, bleg ugeg-ugeg sambel témpé membleg-membleg, jangan nangka jaré gudheg, suda rungon jaré budheg. Sakdulita hemel-hemel, ana randha bokongé memel. Hai gusti momonganku Pandhawa jangan ndableg, kejiret ing karep. Jangan ikut-ikutan orang yang mélik nggéndhong lali. Lupa pada darmaning kesatria, mabuk kesesatan, demokrasi itu bukan asal-asalan. Negara demokrasi bukan asal beda, asal ramé, asal baru, asal bicara, asal buat alasan, kok seperti wong alasan.


Hai para kesatria Pandawa jangan bernafsu memimpin kalau tidak jégos mimpin diri sendiri, jangan berambisi mengatur negara jika bukan negarawan. Aja padha ngaji pumpung, mélik nggédhing lali. Semangat menjaga ketentraman jagad jangan ditinggal¬kan; setiap kesatria wajib memayu hayuning sasama, memayu hayuning nusa bangsa, memayu hayuning negara, memayu hayuning budaya, dan memayu hayuning bawana. Ingat: sing sapa ndhisiki cidra, ing kono wahyuning kamulyan bakal sirna. Barang siapa berniat jahat, di disitulah derajad kemuliaan bakalan minggat.


Om Suryo, dalang WAYANG PARODISIAL bernarasi: “semua kerusuhan itu bukan ulah seniman dalang. Sebab, di luar wayang, telah tumangkar dalang-dalangan, termasuk para dalang kerusuhan. Semua itu bukanlah seniman. Jika dalang sejati mengamalkan darma, maka dalang kerusuhan berperilaku preman; tahunya hanya nafsu kebinatangan dan sama sekali tidak paham liku-liku jagat wayang. Belum becus keburu kumenthus. Yang jelas dalang-dalangan itu tidak tahu diri, apalagi tahu malu. Memalu¬kan, harga diri diperjualbelikan.”


Pergelaran ditutup dengan harapan sendu “mudah-mudahan wayang pasemon- pasemon wayang ini hanya tergelar dalam sandiwara, jangan terjadi di negeri Indonesia tercinta. Indonesiaku tetap jaya sepanjang masa; seperti cita-cita semula. Panjang dan punjung sudah tidak perlu lagi. Negaraku butuh negarawan, yang senantiasa berupaya agar Indonesia menjadi hayu, hayem, gemah, ripah, karta, dan raharja. Kita doakan, semoga yang menang tidak ingkar terhadap janji yang diikrarkan, timbang dengan hasil yang ditambang. Amin. Dalang Suryo diam sesaat, capek berharap-harap, katanya. Alunan ladrang Ěling-éling mengakhiri seluruh pergelaran.

Ada 631 Komentar / Beri Komentar
Nama
Lokasi
Email
   
Komentar
Kode

AGENDA

TESTIMONI

Bahwa seni pedalangan yang merupakan salah satu aspek kesenian, mencakup bidang seni rupa, sastra, drama, karawitan dan tari adalah merupakan warisan luhur bangsa Indonesia yang bernilai simbolis, mistis, magis, filosofis, religius dan pedagogis sehingga berkemampuan membentuk watak & jiwa bangsa berdasarkan Pancasila.

Susilo Bambang Yudhoyono