Pepadi » Warta Pepadi » Liputan
26 Nov 2011

MPR RI Sosialisasi 4 pilar berbangsa Melalui Wayang Kulit Purwa

Pagelaran kesenian rakyat wayang kulit kembali digelar MPR RI dalam rangka sosialisasi 4 pilar berbangsa (Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika ).
 
Pagelaran wayang kulit yang mengambil lakon Wisanggeni Gugat, kali ini menampilkan duet maut dua dalang kondang, Ki Enthus Susmono dan Ki Sujiwo Tedjo, dilaksanakan semalam suntuk pada Sabtu malam ( 26/11 ), dengan dihadiri Ketua MPR RI Taufiq Kiemas, Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Y.Thohari, Ketua DPR RI Marzuki Alie, beberapa anggota MPR/DPR, pejabat teras Sekretariat Jenderal MPR RI, ditonton secara langsung ratusan masyarakat seputar Jakarta dan daerah-daerah pinggir Jakarta, dan disiarkan secara live melalui jaringan RRI dan TVRI.
 
Ketua MPR RI Taufiq Kiemas dalam sambutannya mengungkapkan bahwa dalam melakukan Sosialisasi 4 pilar, banyak sekali metode yang dilakukan MPR RI kebanyakan memakai berbagai metode yang modern.
 
“Namun, menurut saya, sosialisasi tidak melulu harus dilakukan dengan metode yang modern. Metode yang merakyat dengan bungkus kesenian seperti wayang kulit ini juga sangat dibutuhkan dan ternyata sangat efektif untuk pemahaman 4 pilar berbangsa kepada masyarakat luas,” ujarnya.
 
Taufiq Kiemas, menambahkan, terkait dengan 4 pilar, salah seorang dalang yakni, Ki Sujiwo Tedjo bertanya tentang eksistensi NKRI kepada dirinya.
 
“Ki Sujiwo Tedjo bertanya apakah NKRI masih ada? Saya jawab, selama pagelaran wayang ada, maka NKRI tetap ada karena kisahnya sangat sarat dan menggambarkan kesatuan dalam perbedaan. Itulah inti 4 pilar berbangsa,” tegasnya.

Ketua DPR RI Marzuki Alie saat ditemui di sela-sela pertunjukan, mengatakan bahwa dirinya sangat kagum dan mendukung program sosialisasi 4 pilar yang sedang digalakkan MPR RI dengan berbagai metode, salah satunya dengan acara pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
 
“Saya menghormati seluruh Pimpinan dan anggota MPR RI dalam usahanya melakukan sosialisasi 4 pilar. Inilah bentuk penghormatan saya. Saya datang, walaupun saya bukan orang Jawa, inilah penghormatan kepada perbedaan dan penghormatan kepada keberagaman bangsa kita yang sangat kaya ini,” katanya.
 
Wisanggeni Gugat
 
Alkisah seorang tokoh wayang muda Pangeran Wisanggeni, putera seorang tokoh Pandawa Arjuna dari isteri seorang dewi kahyangan, Dresnatala anak dewa Batara Brama ( dewa api ), dengan semangat mudanya mengajak seluruh tokoh muda Pandawa untuk membentuk dan membangun persatuan dan kesatuan pemuda Pandawa.
 
Semangat Wisanggeni ini didukung penuh saudara-saudara yang lain seperti, Hanantorejo, Gatotkaca, Hanantoseno, Abimanyu dan lain-lain, terutama untuk merebut negara Astina dari genggaman para Kurawa secara konstitusional, namun upaya tersebut gagal akibat campur tangan Batara Guru dan Batara Narada yang menjelma sebagai maharesi ( guru besar penesehat kerajaan Astina )
 
Batara Guru dan Narada kemudian melakukan protes keras dan demo kepada Sang Hyang Wenang ( raja dirajanya para dewa kahyangan ) karena Wisanggeni yang berniat akan merebut negara Astina adalah cucu seorang dewa kahyangan.
 
Karena Batara Guru dan Narada terlalu sibuk berkuasa di kerajaan Astina, sehingga terjadi kekosongan kekuasaan di Kadewataan. Kekosongan kekuasaan ini dimanfaatkan Gareng dan Bagong untuk beralih rupa menjadi Batara Guru dan Narada, berkuasa di Kadewataan dengan maksud untuk memberikan pelajaran keras atas kecurangan dua dewa tinggi tersebut.
 
Di sela-sela cerita, dalang Ki Enthus dan Ki Sujiwo, menyelipkan petuah-petuah tentang 4 pilar berbangsa.
 
“Ini cerita di dunia wayang. Di dunia nyata ini di Indonesia juga bisa terjadi bahkan sudah terjadi, kongkalikong, curang menyurangi, tipu muslihat dan menghalalkan segala cara. Inilah perlunya nilai-nilai Pancasila yang agung harus diterapkan kepada seluruh anak bangsa terutama para penguasa,” ujar Ki Enthus.(sumber;http://www.mpr.go.id)

Belum Ada Komentar / Beri Komentar
Nama
Lokasi
Email
   
Komentar
Kode

AGENDA

TESTIMONI

Bahwa seni pedalangan yang merupakan salah satu aspek kesenian, mencakup bidang seni rupa, sastra, drama, karawitan dan tari adalah merupakan warisan luhur bangsa Indonesia yang bernilai simbolis, mistis, magis, filosofis, religius dan pedagogis sehingga berkemampuan membentuk watak & jiwa bangsa berdasarkan Pancasila.

Susilo Bambang Yudhoyono