Enam Dalang Se Karesidenan Surakarta ramaikan Ulang Tahun Ki Purbo Asmoro yang ke 50 Tahun. Enam Dalang pilihan itu adalah Ki Suryanto Purbo Carito dari Boyolali, Ki Bagong Supono dari Klaten, Ki Sukadi dari Sukoharjo, Ki Putut Dari Sragen, Ki Gusti Benowo dari Kodya Surakarta, dan Ki Kliwir mewakili Karanganyar . Enam Dalang ini menyajikan Lakon Mbangun Candhi Saptohargo diteruskan Petruk Dadi Ratu yang di gelar di pendopo tempat tinggal Ki Purbo Asmoro, Gebang, Kadipiro, Banjarsari Surakarta, Jumat 16 Desember 2011.
Ulang Tahun Ke 50 Tahun Ki Purbo dirayakan dengan mengundang seluruh saudara, kerabat, dan seniman-seniwati diseputar Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta. Lima (5) Profesor nampak hadir dalam acara tersebut yakni Prof. Timbul Haryono (UGM), Prof.DR. Soetarno (ISI), Prof. Sarwanto (ISI), Prof. Rohana (ISI), Prof. Dr. Rahayu Supanggah, hadir pula Ketua Jurusan Pedalangan, Para Ketua PEPADI, Bupati Purworejo, Pak Marsam (Dosen Etnomusikologi di Amerika) dan kru TV Kabel dari Singapura teman Mbk Kitsie Emerson.
Sebelum pergelaran wayang kulit purwa dimulai, acara didahului oleh pentas wayang orang anak-anak dari kelompok Sarotama yang membawakan lakon “Mustokoweni” yang tampil prima dan memukau penonton. Kepiawaian joged dan dialog mereka tidak bisa dianggap remeh, tembang juga dilantunkan dengan merdu dan sempurna oleh mereka. Kepiiawaian tokoh cakil menjadi icon tersendiri bagi kelompok wayang orang anak-anak ini. Ketrampilan gerak dan komposisi yang atraktif membuat penonton tepuk tangan berkali-kali.
Selesai pementasan wayang orang bocah, para undangan masih disuguhi tontonan khas yang didatangkan khusus dari Pacitan kelahiran Ki Purbo, yakni sebuah pertunjukan yang lumayan langka “Kethek Ogleng”. Kethek Ogleng lebih kepada tarian bebas menirukan gerak-gerik kera, dengan gerakan memanjat, berguling-guling, duduk diatas meja dan kursi, termasuk bergelayutan di atas tali, kemudian dilanjutkan dengan bendrong dan ditutup dengan hadirnya Endang Loro Tompe yang memadu kasih dengan “Kethjek Ogleng”. Sejatinya ini menceriterakan perjalanan Hanuman dalam menjadi Duta ke Alengka ketemu Sayempraba prajurit Alengka.
Acara puncak diawali dengan sambutan Gusti Benowo (Seorang Dalang Putra Raja Surakarta) yang menyampaikan terimakasih atas atensi dari semua para tamu. Kemudian dilanjutkan potong tumpeng oleh Ki Purbo Asmoro yang diberikan kepada Ayahnya Ki Soemarno Hardo Carito Dalang Sepuh dari Pacitan yang merupakan penghubung garis keturunan Dalang antara Ki Purbo dengan para leluhur dalang sebelumnya.
Pentas wayang menjadi sangat menghibur ketika Gusti Benowo Ngasto Limbukan yang dimeriahkan dengan lawakan Kirun, Ki Sayoko, Prof. Timbul Haryono yang melawak dengan cerdas, spontan, menghibur dan mengocok perut para tamu yang hadir, juga dimerihakan lantunan tembang penyanyi campursari terkenal Cak Dikin, serta joged Sandirono. Ki Purbo juga sempat didaulat untuk nembang duet dengan istrinya Ny. Ninuk Sudirahayu.
Ketua PEPADI Pusat Ki Ekotjipto tidak bisa hadir karena berbarengan dengan pelatikan Ketua PEPADI Palembang dan acara sosialisasi uang palsu BI di Palembang. Pak Ekotjipto hanya mengirimkan sms yang isinya mengucapkan selamat kepada Ki Purbo Asmoro.
“Selamat Ultah Mas Purbo yang ke 50, semoga Allah memberi panjang umur, kesehatan, petunjuk, hidayah dan kemampuan berkarya untuk turut membangun budi pekerti bangsa. Salam hangat juga kepada seluruh tamu undangan yang hadir khususnya pengurus PEPADI, mari kita bergandengan tangan berjuang mempertahankan dan mengembangkan seni pedalangan. Mari kita jaga keagunganya dan tidak berhenti, dengan upaya meregenerasikan kepada anak cucu kita. Dalang harus mampu memberikan pendidikan budi pekerti.” Demikian Ketua PEPADI Pusat. (b3)
Rabu, 19 OKTOBER 2011
09:00-11:00 Pembukaan Kompetisi Dalang Remaja 2011
11:00-12:00 Ki. Juworo Bayu Kusumo, Jawa Tengah (Bale Sigala-Gala)
12:00-13:00 ...
Ada 11 Komentar / Beri Komentar
Reno Adji Kusuma
Assalamualaikum wr wb Kepada segenap pengurus PEPADI pusat, saya akan memberi kritik dan saran karena saya sebagai putra bangsa penggemar wayang kulit merasa 1. Mengapa PEPADI TIDAK ADA NIAT untuk menyiarkan secara ON-AIR atau OFF-AIR di Stasiun Televisi Nasional seperti tahun-tahun 1997-1999. 2. Agar PEPADI lebih PROAKTIF sebagai jembatan mempopulerkan kembali wayang kulit kepada generasi muda lewat media Tlevisi Nasional 3. Kami tidak rela dan tidak mau budaya seni ADILUHUNG milik Bangsa Indonesia dijiplak atau dimiliki oleh bangsa lain karena Wayang Kulit tidak populer di NEGERI sendiri INDONESIA karena kurangnya mempopulerkan wayang kulit di media Televisi Nasional Demikian, saya sangat berharap agar PEPADI merespon masukan saya. Terima kasih Wassalamualaikum Wr Wb Reno Adji (081 5662 6179)nana herdiana
Iya tu pepadi kok pada MALES n ndak ada mau berusaha untuk nyiarkan wayang kulit di TV sih.... kan itu budaya bangsa yang adiluhung.... ntar kalo di miliki negara lain gimana hayo...?dewi imut
iya tuh... gimana sih pepadi udah batik di curi malaysia, reog, kalu wayang kulit dicuri gimana hayo? siarin lagi dong wayang kulit di TV kayak dulu...probo suntono
piye nek wayang ora populer neng negarane dewe...??? opo pepadi ra gelem to nyiarke wayang kulit neng tivi???joko handoko
PEPADI HARUS LEBIH INTENS DONG KERJASAMA DENGAN KEMENTERIAN BUDAYA AGAR WAYANG KULIT BISA SIARAN LAGI DI TELEVISI NASIONAL.sherly
betul tu, gimana sih pepadi sbg organisasi wayang kulit kok kagak mau kerjasama ama televisi buat acara live di tv wayang kulit semalam suntuk di weekend???donny a
SETUJU wayang dicuri malaysia pada mau gak???? buat acara di tivi seperti dulu tuhsumarto
wayang kulit tidak mau siaran di televisi nasional karena takut dengan pepadisubono abdi waluyo
wayang kok tidak bisa siaran di tv, apa tidak ada niat to pepadi mempopulerkan wayang kulit? negoro remuk amargo korupsi wayang kulit yo ojo remuk mergo ra tau disiarkeadmin
PEPADI Pusat bukan tidak mau menyiarkan wayang kulit di TVRI, kerja sama dan upaya telah ditempuh, misalnya dlm prog CEMPALA. Penayangan wayang di TV bukan hanya tugas PEPADI tetapi tugas kita bersama semua pecinta wayang. Penayangan di TV memerlukan biaya yg sangat tinggi, PEPADI sebagai organisasi non profit tidak punya kemampuan membiayai penayangan wayang di TV. Tetapi di beberapa daerah misalnya PEPADI Yogyakarta,Surakarta, Palembang, Surabaya sering menayangkan wayang melalui TV lokal.admin
khusu Mas Reno Adji, terimakasih kritik dan saranya. Namun perlu kita sadari era sekarang berbeda siatuasinya dengan tahun 1997-1999. karena pada saat itu kebetulan Ket PEPADI Pak Sampurno.SH yg punya kedekatan dengan Presiden dimasa itu, sehingga akses ke Istana dan beberapa Departemen instansi termasuk TV sangatlah mudah.PEPADI juga pernah wayangan di Istana negara di tonton Presiden dan segenap Kabinet Indonesia bersatu yg disiarkan TV Swasta secara langsung. PEPADI Pusat jg sering bekerja sama dgn BI ssosialisasi unang palsu di berbagai daerah di Indonesia dengan disiarkan langsung Radio dan TV lokal. Bila Mas Reno Aji pengin berbagi dan punya solusi agar wayang kembali disiarkan di TV. mhn datang dan diskusi ke kantor PEPADI PUSAT. di Gedung Pewayangan Kautaman TMII. Belakang Masjid AT'TIN.