Pepadi » Warta Pepadi » Liputan
23 Oct 2011

Ki Aditya Krisna: Wayang Akan Tetap Bertahan

 

Tampil sebagai peserta dengan nomor urut delapan, Aditya Krisna yang mendapat giliran di hari kedua mewakili Jawa Timur dalam Festival Dalang Remaja (FDR) 2011 di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta. Remaja yang baru saja menginjak usia 17 pada tanggal 10 lalu ini memainkan Gagrag Surakarta dengan cukup baik meski waktu berlatih yang dimilikinya terbilang minim. Persiapan yang minim tersebut tidak mempengaruhi penampilannya sore itu, penonton memberikan apresiasi cukup baik pada pertunjukannya.

Adit, begitu ia akrab disapa, saat ini duduk di bangku kelas 2 SMKN 8 Surakarta. Lahir dan besar di lingkungan keluarga dalang, wayang tak lagi asing baginya. Kesempatan tampil di Jakarta ia manfaatkan betul untuk unjuk kebolehan. Merasa menyukai dan unggul dalam teknik sabet, penyuka tokoh Werkudoro yang lebih dikenal dengan Bima dalam pewayangan ini memilih Duryudhana Gugur sebagai lakonnya. Wajar saja mengingat rivalitas antara Werkudoro dan Duryudhana yang mewakili kekuatan Pandawa dan Kurawa dalam epos Mahabarata memang sangat terkenal.

Walau hidup di lingkungan keluarga dalang, Adit mengaku kalau ia mendalang bukan karena dorongan atau paksaan dari orangtuanya. “Sejak kecil saya sudah suka sama wayang,” ujarnya menyatakan. “Ini (wayang) kan budaya kita, sebagai bangsa Indonesia kita harus menjaganya,” lanjutnya menambahkan. Hal itu diamini Pak Roub, pembina Adit. Menurutnya, wayang itu sebuah nilai Adiluhung yang bisa disampaikan dalam berbagai cara sehingga nilai-nilainya tetap abadi.

“Saya yakin kalau wayang akan tetap bertahan karena benar-benar dicintai rakyat,” paparnya. “Selama masyarakat masih mengapresiasi, wayang akan tetap bertahan,” lanjutnya. Masyarakat Jatim sendiri menurutnya merupakan masyarakat yang sangat peduli terhadap wayang. Kecintaan masyarakat Jatim terbukti dengan banyaknya pertunjukan wayang dalam acara adat masyarakat setempat. Biaya yang dikeluarkan untuk dalang di Jatim pun tidak seberat biaya dalang di daerah lain, sehingga pertunjukan wayang banyak digelar dalam berbagai hajatan masyarakat.

Sayangnya, gagrag Jawatimuran arus absen dalam FDR kali ini, berhubung masing-masing Provinsi hanya diperbolehkan mengirim satu peserta. Jatim sendiri memiliki dua gagrag utama yang cukup berperan, Surakarta dan Jawatimuran. Pak Roub sebagai pembina sekaligus mewakili romobongan Jatim bukan tidak memperhatikan hal ini. “Dalam menghadapi persoalan macam ini, kita harus menggunakan among rasa,” jawabnya ketika ditanya perihal absennya gagrag Jawatimuran. Meski ada sedikit perbedaan, kedua gagrag yang dominan di Jatim itu saling menghargai satu sama lain. Keduanya bahkan saling mendukung terhadap perkembangan masing-masing selama itu demi melestarikan wayang, budaya Adiluhung warisan para leluhur. (AOVI / thin)

Belum Ada Komentar / Beri Komentar
Nama
Lokasi
Email
   
Komentar
Kode

AGENDA

TESTIMONI

Bahwa seni pedalangan yang merupakan salah satu aspek kesenian, mencakup bidang seni rupa, sastra, drama, karawitan dan tari adalah merupakan warisan luhur bangsa Indonesia yang bernilai simbolis, mistis, magis, filosofis, religius dan pedagogis sehingga berkemampuan membentuk watak & jiwa bangsa berdasarkan Pancasila.

Susilo Bambang Yudhoyono