Kongres ke-VIII Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) telah usai. Kongres dua hari yang dilaksanakan di Gedung Pewayangan Kautaman TMII, Jakarta, melahirkan sebuah keputusan baru yaitu mengukuhkan ketua baru untuk masa bakti lima tahun ke depan, 2011 hingga 2016. Bapak Suparmin Sunjoyo akhirnya terpilih secara aklamasi untuk melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, Bapak H. Solichin.
Saat ditemui usai kongres, Pak Parmin menegaskan tentang visi dan arah kebijakan untuk masa periode lima tahun ke depan. Secara umum, visi Sena Wangi di bawah kepemimpinan Bapak Solichin patut diteruskan dan dikembangkan. Diakuinya Wayang Indonesia sebagai Karya Agung Budaya Dunia (Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO tahun 2004 merupakan prestasi yang sangat mendasari dan mengilhami gerak laju kesenian wayang. Prestasi ini harus terus diimbangi dengan misi pengembangan wayang secara regeneratif, khususnya di tengah era globalisasi yang semakin membuka banyak kran kebebasan.
Karena itu, lanjut Pak Parmin, wayang harus dapat diterjemahkan secara lebih kontekstual. Tanpa meninggalkan kaidah-kaidah dasar, sudah seharusnya wayang dapat diaplikasikan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih ‘nyeleneh’ dan mengena pada sasaran generasi muda hari ini. Dari hal inilah, wayang akan menjadi bagian dari tontonan sekaligus tuntunan etos dalam perspektif kebudayaan Indonesia. “Muatan wayang sangat bagus untuk pencitraan, sekaligus memberikan landasan berperilaku bagi anak muda. Bisa saja wayang dikemas secara lebih pop agar pesannya sampai,” kata Pak Parmin.
Ketua terpilih ini menggarisbawahi peran punakawan sebagai ciri khas Wayang Indonesia. Tak hanya itu, punakawan menjadi sebauh tontonan menghibur yang penuh dengan pesan muatan bagi masyarakat. Karena bentuknya yang lebih terbuka, simpul wayang semacam punakawan inilah yang sebenarnya bisa dioptimalkan untuk merangkul anak-anak muda saat ini. Baik genre pop maupun genre klasik, punakawan secara elastik dapat didekatkan dengan situasi kontekstual hari ini.
Terkait isu pergesekan antara wayang dan agama yang diusung segelintir pihak-pihak tertentu, Pak Parmin hanya menegaskan pentingnya pemahaman tentang kerukunan dan memaknai secara lebih kontekstual tentang nilai kebenaran. Secara khusus Pak Parmin memberikan contoh tentang kebudayaan Jepang dan semangat samurai yang mendasari filosofi kehidupan masyarakat Jepang. Namun, ia menandaskan bahwa Indonesia bukanlah Jepang. Indonesia merupakan nusantara yang terdiri dari berbagai macam suku, golongan, dan bentuk kebudayaan. Karena itu, nilai kebudayaan di Indonesia justru saling menghargai dan saling rukun dalam perbedaan itu. “Indonesia itu dasarnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Dari situ sudah terlihat, bahwa pluralisme dalam persatuan adalah jiwa dan semangat kita. Kuncinya adalah kekeluargaan dan saling menghargai,” tandas Pak Parmin. (AOVI / thin / PJD)
Rabu, 19 OKTOBER 2011
09:00-11:00 Pembukaan Kompetisi Dalang Remaja 2011
11:00-12:00 Ki. Juworo Bayu Kusumo, Jawa Tengah (Bale Sigala-Gala)
12:00-13:00 ...
Ada 1 Komentar / Beri Komentar
Panji darussalam
salam rahayu jayalah bangsaku jayalah wayangku sebagai tontonan dan tuntunan anak putu indonesia