Wayang Kulit Sasak berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat berbahan dasar kulit kerbau dan tanduk kerbau. Disebut Sasak karena pembuatannya berasal dari etnis Sasak. Dari telusur pustaka, ada yang mengatakan, wayang di Lombok konon sudah ada sebelum Sunan Prapen datang menyiarkan Islam tahun 884 Hijriah/1464 M ke sana.
Dahulu wayang Sasak dipergunakan untuk berdakwah agama Islam di pulau Lombok. Sekarang dipertontonkan dan untuk upacara adat, misalnya di masyarakat Malang kecamatan Gerung, kabupaten Lombok Barat. Bentuk wayang Sasak mirip dengan wayang kulit Gedog. Koleksi wayang kulit Sasak bisa dilihat di Museum Wayang Jakarta Kota dibuat tahun 1925.
Cerita wayang Sasak mengisahkan Amir Hamzah (paman Nabi Muhammad SAW). Amir Hamzah dalam wayang kulit Sasak, namanya diganti sesuai dengan nama indonesia (Jawa) yaitu Wong Agung Menak Jayengrana. Cerita ini masuk ke Indonesia melalui tanah Melayu kemudian masuk ke Jawa dan tersebar sampai ke Lombok. Cerita Menak tersebut ditulis di daun lontar dalam bahasa Jawa dengan huruf Jejawan (huruf Sasak). Ragam Ceritera atau Lakon wayang Sasak biasanya ber-nuansa Islam, seperti Kelampan Yunan, Bangbangri, Jenglengge, Kabar Sundari, Gendit Birayung, Kawitan, Selandir, bidara dan Dewi Rengganisdan lain-lain.
Sedangkan gamelan yang mengiringi pertunjukan wayang Sasak terdiri dari ceng-ceng, suling, tawa-tawa, kendang, pleret, dan kempul. Pertunjukan wayang Sasak, hanya membutuhkan sekitar 10 orang terdiri dari seorang dalang, dua orang pembantu dalang untuk menata wayang (pengabih atau pengawit) serta tujuh orang penabuh gamelan.
Pertunjukan wayang Sasak dibagi menjadi lima adegan yakni pengaksama yang berisipermintaan maaf kepada penonton apabila dalam mendalang sang dalang beserta pengiringnya membuat kesalahan.
Adegan berikutnya adalah kabar yang menceritakan kisah sebelun ada alam raya dan hanya ada Sang Pencipta, adegan ketiga ucapan yang memaparkan lakon yang dibawakan, sedangkan adegan keempat yakni lelampan atau jalannya cerita serta ditutup dengan adegan bejanggeran.
Adegan demi adegan biasanya diiringi dengan gending (lagu) yang selaras dengan suasananya. Gending selutur, misalnya digunakan untuk adegan mengeluarkan wayang pertama, rangsang atau rangsangan sebagai pembuka setelah "pemeras" (upacara sesaji) dan juga untuk menandai perang atau huru hara, baten atau batel sebagai iringan wayang berjalan, cirbon serta balik rondon untuk mengiringi raksasa, janggelan prabu untuk mengiringi raja dan kaderan untuk mengiringi tokoh Umar Maya.
Di masa lampau, wayang merupakan media dakwah dan hiburan, meski dalam perkembangannya berfungsi sebagai sarana hiburan, penyuluhan. Juga untuk meramaikan hajatan seperti acara sunatan, pesta perkawinan, membayar kaul, dan semacamnya. Bila penonton wayang Jawa menyaksikan pagelaran dari arah belakang dalang dan grup penabuh, maka penonton wayang sasak berhadapan dengan ranggon (panggung). Bagian depan ranggon terdapat kelir (layar), dan labakan atau lampu.
Jumlah wayang Sasak tidak kurang dari 400 lembar (terbuat dari kulit binatang). Pementasannya diperkuat dua orang pengabih, yang membantu mengambil wayang yang akan dan sudah dimainkan. Ada tujuh penabuh yang memainkan instrumen suling, gendang (lanang-wadon), rincik (alat ritmik), kempul, kenot, dan kajar (sejenis reong
Pementasan wayang Sasak biasanya dimulai dengan tokoh Panakawan. Seperti Ocong, Amak Amet, atau Amak Kesek. Pada cerita tokoh Panakawan inilah biasanya penonton penuh, karena cerita yang ditampilkan adalah kisah sehari-hari masyarakat setempat. Bahasa yang digunakanpun bahasa sehari-hari masyarakat Lombok, yakni bahasa Sasak. (Dari berbagai sumber).
Rabu, 19 OKTOBER 2011
09:00-11:00 Pembukaan Kompetisi Dalang Remaja 2011
11:00-12:00 Ki. Juworo Bayu Kusumo, Jawa Tengah (Bale Sigala-Gala)
12:00-13:00 ...
Ada 1 Komentar / Beri Komentar
m. tahir
saya pemerhati wayang sasak dan banyak tulisan tentang wayang sasak, bagaimana kalau saya kirim artikel ke web PEPADI ?