Pepadi » Warta Pepadi » Liputan
30 Aug 2010

Sukrasana Bukan Saudara Sumantri, Sebuah Ukuran Sanggit Anti Kemapanan?

Ceritera Sumantri dan Sukrasrana ini juga terdapat dalam Serat Arjuna Sasarabahu ditulis dalam bentuk tembang macapat, serat Arjunasasrabahu ditulis pada tahun 1757 (Jawa) atau 1830 Masehi. Oleh Palmer van den Broek, kitab karya R. Ng. Sindusastra ini dimuat dalam Verhandelingen van het Bataviaasche Genootschap No. 34 Th 1870. Didalam kitab itu jelas dikisahkan bahwa Sukasrana adalah adik Sumantri, tak jauh berbeda dengan yang dikisahkan dalam ceritera pedalangan.

Tetapi kali ini Wayang Ukur yang manggung di Gedung Pewayangan TMII Minggu 22 Agustus 2010 menyuguhkan sanggit yang berbeda, Sukrasana sosok seorang cacat buruk rupa yang memerlukan uluran tangan orang lain untuk dapat sembuh dari penyakit yang dideritanya bahkan sekedar untuk bertahan hidup. Resi Swandagni juga bukan ayah Sumantri dan Sukrasana melainkan seorang Guru besar para kesatriya dan raja-raja. Begitu pula sosok Sumantri yang wadat dan Citrawati yang hanya mau dipersunting sang pemenang sayembara layaknya kisah Bismo dan Dewi Ambo. Itu sebagian sanggit yang disajikan. Tentu sanggit ini mengejutkan bagi penikmat wayang kebanyakan.

Menurut sang sutradara wayang Ukur Bambang Paningron, nilai yang diusung sangat komplek, tentang tolong-menolong, cinta kasih, kewibawaan, jiwa kesatriya dan nilai universal lainnya. Digarap dalam jalinan ceritera sedemikian rupa hingga hiharapkan menjadi tafsir baru. Meski tafsir itu kemudian diserahkan sepenuhnya kepada penonton sebagai penikmat pertunjukan. Tapi sayang Bambang Paningron sendiri tidak menyebutkan secara spesifik nilai apa yang ditebalkan dalam sajian kali ini. Bahkan endingnya pun terasa ngambang tidak tegas. Ini disadari oleh sutradara yang pada awalnya ending akan diputuskan pada adegan Sukrasana mboyong taman Sriwedari. Tetapi kemudian di tarik sampai suksesi patih Maespati.  Tetapi nampak kurang jelas apa yang mau disampaikan.

Dalam serat Tripomo ditegaskan bahwa patih Suwanda merupakan suri tauladan yang baik bagi para prajurit. Dengan berbekal tiga “paugeran “ Guna, Kaya, Purun, Sumantri digambarkan menjadi sosok pengabdi yang ideal. Bertentangan dengan Tripomo kah sosok Sumantri yang digambarkan dalam wayang Ukur kemarin? Jawabnya terserah kepada anda yang kebetulan menonton pergelarannya.

Kegamangan ini mungkin berhubungan erat dengan ditinggalkanya Wayang Ukur oleh Penciptanya Pak Kasman. Sehinnga “tali suh” yang kuat untuk mengikat para pendukung wayang ukur terasa hilang, dan proses yang ada sekarang berjalan dengan sendirinya.

Menurut Bambang Paningron Sutradara dalam pementasan tersebut, proses itu berjalan apa adanya, mengalir dengan sendirinya tak ada yang memaksa dan merasa dipaksakan semua merupakan kerja bareng. Sepeninggal sang maestro Pak Kasman, tidak ada yang berani secara tegas mengambil alih peran beliau. “jika dulu ada yang bisa tegas, ini harus begini, atau kamu gak usah berangkat”.katanya.

Sekarang ini lebih banyak ngemong satu - sama yang lain.  "Saat ini baru pada tataran menginvetarisir kembali peralatan wayang Ukur yang dimiliki Pak Kasman dan perlahan menghidupkanm kembali geliat wayang Ukur."ibuhnya".

Lepas dari itu semua, pertunjukan wayang ukur yang langka perlu mendapatkan acungan jempol. Langka, karena di dunia hanya ada satu grup dan berbeda dengan sajian wayang yang ada. Untuk itu perhatian dari berbagai kalangan baik pemerintah, swasta, perguruna tinggi, budayawan dan masyarakat pecinta seni sudah sepantasnya ikut mengupayakan pengembangan wayang ukur ini agar tidak mati suri.Dengan mengupakyakan frekwensi pentas yang lebih banyak akan terukur keadiluhungan serta kelestariannya.

Sekedar diketahui

Pertunjukan Wayang Ukur, karya Sukasman adalah sebuah pertunjukan Wayang Tradisi Indonesia yang dikemas dengan memadukan Seni Teater, Seni Tari, Seni Musik Gamelan dan Seni Sastra Pedalangan dengan sentuhan artistik teknologi tata cahaya yang menawan.Sukasman, seorang maestro wayang yang tidak pernah puas dengan kemapanan sebuah tradisi. la melakukan eksperimen dengan menciptakan wayang kulit genre baru, dengan kaidah seni rupa dan teknik tata cahaya yang baru, ia menciptakan seni pertunjukan kontemporer wayang sebagai seni bayang-bayang dengan mamadukan unsur-unsur seni Tari, Teater, Gamelan dan seni Sastra yang tidak lagi tunduk pada konvensi tradisi. Sukasman menciptakan sebuah seni garda depan tanpa kehilangan roh tradisinya. Dengan daya ungkap melalui bahasa Indonesia. Wayang Ukur mencoba memberi tawaran sebuah seni pertunjukan bayang-bayang yang berwawasan global. Pergelaran ini hasil kerjasama SENAWANGI, PEPADI dan pengelola Gedung Wayang (Bas).

Ada 57 Komentar / Beri Komentar
Nama
Lokasi
Email
   
Komentar
Kode

AGENDA

TESTIMONI

Bahwa seni pedalangan yang merupakan salah satu aspek kesenian, mencakup bidang seni rupa, sastra, drama, karawitan dan tari adalah merupakan warisan luhur bangsa Indonesia yang bernilai simbolis, mistis, magis, filosofis, religius dan pedagogis sehingga berkemampuan membentuk watak & jiwa bangsa berdasarkan Pancasila.

Susilo Bambang Yudhoyono